Kisah Horor Komedi Hantu Kosan yang Iri Lihat Penghuninya Bisa Makan Mie Instan
Di sebuah kosan dua lantai yang cat temboknya sudah mengelupas seperti kulit habis terbakar matahari, hiduplah seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Budi. Budi adalah tipe penghuni kosan yang sangat mencintai dunianya sendiri, terutama hobinya menyantap mie instan di jam dua pagi. Namun, Budi tidak tahu bahwa setiap ia menyeduh mie dengan aroma bumbu yang merangsang indra penciuman, ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh dendam dari balik lemari tua.
Namanya adalah Aris, hantu penghuni kosan yang sudah “mendiami” lemari Budi selama tiga puluh tahun lebih. Aris bukan hantu yang ingin menakut-nakuti orang dengan darah atau suara rintihan, ia adalah hantu yang punya masalah eksistensial: ia sangat iri dengan kemampuan manusia untuk makan.
Awal Mula Kecemburuan Kuliner
Malam itu, Budi sedang dalam kondisi kritis. Tugas skripsi yang tak kunjung selesai membuatnya harus lembur. Sebagai pelarian, ia mengeluarkan sebungkus mie instan varian goreng favoritnya. Suara air mendidih yang dituang ke dalam gelas plastik, aroma bawang goreng yang menyeruak, dan bunyi srot-srot saat Budi menyeruput mie tersebut adalah sebuah siksaan bagi Aris.
Dari balik bayang-bayang lemari, Aris hanya bisa menelan ludah—bukan, lebih tepatnya menelan udara dingin. Ia ingat betul bagaimana rasanya makan. Ia rindu sensasi kenyang yang hangat di perut. “Enak banget ya hidup jadi manusia, bisa ngerasain gurihnya penyedap rasa,” gumam Aris dengan nada sedih yang lebih terdengar seperti suara pintu berderit.
Teror Berkedok Kelaparan
Aris mulai menjalankan aksi terrornya. Bukan untuk mencelakai, tapi untuk mencuri perhatian. Saat Budi baru saja menyuap garpu pertamanya, Aris sengaja menggeser gelas air minum Budi hingga tumpah sedikit. Budi kaget, menggerutu, lalu melanjutkan makannya.
Aris makin kesal. Ia kemudian meniup-niup uap mie instan itu agar menjadi dingin lebih cepat, berharap Budi tidak menikmatinya. Tapi Budi malah menganggap itu adalah hembusan angin malam yang menyegarkan. Aris kehabisan akal. Ia pun memutuskan untuk menampakkan diri, bukan sebagai sosok menyeramkan, melainkan sebagai sosok yang sedang menatap dengan tatapan “Gue laper, bagi dong.”
Budi, yang memang sudah lelah dan setengah sadar, melihat sosok transparan berwajah pucat berdiri di depan mejanya. Alih-alih lari terbirit-birit, Budi yang sedang dalam fase “bodo amat” karena terlalu fokus pada skripsi, malah bertanya, “Mas, mau?”
Pertukaran yang Absurd
Aris terdiam. Ia tidak menyangka tawarannya akan diiyakan. “Lo… lo bisa lihat gue?” tanya Aris terbata-bata.
Budi mengangguk sambil mengunyah. “Bisa. Mau mie-nya? Masih ada satu bungkus lagi di laci bawah. Tapi lo yang masak ya, gue lagi pusing mikirin daftar pustaka.”
Aris yang tadinya ingin menjadi hantu menyeramkan, tiba-tiba berubah peran menjadi asisten dapur dadakan. Dengan kemampuan supranaturalnya, Aris memanaskan air tanpa kompor, menata bumbu dengan presisi setingkat koki bintang lima, dan bahkan menghias mie instan tersebut dengan potongan cabai yang estetis.
Ternyata, menjadi hantu yang bisa memasak adalah pelampiasan yang luar biasa. Aris tidak bisa makan, tapi melihat Budi menyantap masakannya dengan lahap memberikan kepuasan tersendiri. Aris merasa ia adalah private chef bagi mahasiswa yang sedang berjuang melawan skripsi.
Kehidupan Baru di Kosan
Sejak malam itu, hubungan Budi dan Aris menjadi sangat unik. Aris tidak lagi iri, ia justru menjadi sangat protektif. Jika ada penghuni kosan lain yang berisik saat Budi sedang makan mie instan, Aris akan menakut-nakuti mereka dengan cara menyembunyikan sandal atau membuat pintu kamar mereka terbuka sendiri.
Budi pun terbantu. Skripsinya lancar karena ia selalu mendapatkan pasokan mie instan yang dimasak dengan “cara ajaib” oleh Aris. Kadang, saat Budi tertidur lelah, Aris akan duduk di sampingnya, memandangi gelas kosong bekas mie instan, dan merasa bahwa menjadi hantu yang hobi memasak tidaklah seburuk yang ia bayangkan selama tiga puluh tahun terakhir.
Tentu saja, para penghuni kosan lain sering mengeluh. “Kok kamar Budi baunya selalu kayak mie instan ya? Padahal dia nggak pernah masak pakai kompor.”
Aris hanya bisa tertawa kecil dari balik lemari, sementara Budi hanya tersenyum tipis, mengetahui bahwa ia punya teman makan yang paling setia dan paling ahli dalam urusan per-mie-an duniawi.
Pelajaran dari Balik Lemari
Kisah ini mungkin terdengar konyol, namun bagi Aris, ini adalah cara ia berdamai dengan kematiannya. Rasa iri yang dulu membakar jiwanya kini telah digantikan dengan kesibukan mengolah bumbu. Ternyata, bahkan dalam keadaan paling tragis sekalipun—seperti menjadi hantu—menemukan tujuan kecil (seperti memastikan mie instan tersaji dengan sempurna) bisa membuat hari-hari terasa lebih bermakna.
Jadi, jika suatu malam Anda sedang di kosan, memasak mie instan, dan tiba-tiba merasa ada hembusan napas dingin di leher Anda, jangan langsung takut. Mungkin, itu hanyalah hantu penghuni kosan Anda yang sedang ingin memberi tips agar bumbu mie Anda tidak menggumpal.
Baca Juga : Mengapa Anda Harus Menonton Film Animasi Flamingo Flamenco Bersama Keluarga?