The Machine Movie Film Balada Si Roy (2023) merupakan adaptasi dari novel populer karya Gol A Gong yang sempat menjadi bacaan ikonik remaja Indonesia era 1980–1990-an. Disutradarai oleh Fajar Nugros dan diproduksi oleh IDN Pictures, film ini menghadirkan kisah remaja penuh gejolak tentang persahabatan, cinta, kehilangan, dan pencarian jati diri. Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada jajaran pemainnya yang berhasil menghidupkan karakter-karakter kuat dari novel ke layar lebar. Berikut adalah daftar pemain utama dan pendukung beserta karakter yang mereka perankan.
Abidzar Al-Ghifari sebagai Roy
Tokoh sentral dalam film ini adalah Roy, diperankan oleh Abidzar Al-Ghifari. Roy digambarkan sebagai remaja tampan, pemberani, dan memiliki jiwa pemberontak. Ia pindah ke Serang setelah kematian ayahnya, membawa luka batin sekaligus tekad untuk menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Di sekolah barunya, Roy dikenal sebagai sosok yang tidak takut melawan ketidakadilan. Karakternya kompleks—di satu sisi keras dan berani, namun di sisi lain rapuh karena kehilangan sosok ayah. Perjalanan emosional Roy menjadi inti cerita, terutama saat ia menghadapi konflik dengan geng sekolah dan dinamika cinta remaja.
Febby Rastanty sebagai Ani
Febby Rastanty memerankan Ani, siswi cerdas dan lembut yang menjadi pujaan hati Roy. Ani bukan hanya karakter “gadis idaman”, tetapi sosok perempuan yang memiliki pendirian kuat dan berani menyuarakan isi hatinya. Hubungan Roy dan Ani berkembang di tengah tekanan sosial serta konflik antar geng. Ani menjadi simbol harapan dan ketenangan bagi Roy, sekaligus ujian bagi kedewasaan emosionalnya. Chemistry antara Febby dan Abidzar menjadi salah satu daya tarik utama film ini.
Bio One sebagai Dullah
Bio One memerankan Dullah, antagonis utama yang memimpin geng sekolah bernama Borsalino. Dullah adalah siswa berpengaruh yang terbiasa mengendalikan keadaan melalui intimidasi dan kekuatan. Konflik antara Roy dan Dullah menjadi motor penggerak cerita. Persaingan mereka bukan sekadar perebutan pengaruh di sekolah, tetapi juga menyangkut harga diri dan cinta. Karakter Dullah memperlihatkan sisi gelap kehidupan remaja yang dipenuhi tekanan dan ambisi.
Jourdy Pranata sebagai Andi
Andi adalah sahabat Roy yang setia. Ia menjadi bagian dari geng kecil yang dibentuk Roy bersama Toni. Karakter Andi digambarkan sebagai sosok yang humoris namun tulus dalam persahabatan. Peran Andi penting dalam membangun sisi emosional cerita. Ia bukan hanya teman seperjuangan, tetapi juga cermin loyalitas dalam masa remaja yang penuh gejolak. Hubungan persahabatan Roy, Andi, dan Toni menghadirkan momen hangat sekaligus menyentuh.
Omara N. Esteghlal sebagai Toni
Toni adalah anggota lain dari geng Roy. Ia memiliki karakter yang ceria dan setia kawan. Toni memberikan warna berbeda dalam dinamika kelompok, sekaligus memperlihatkan bahwa persahabatan sejati lahir dari kebersamaan dan perjuangan. Kehadiran Toni memperkuat tema solidaritas dalam film ini. Ia membantu Roy menghadapi tekanan dari geng Dullah dan berbagai konflik di sekolah.
Lulu Tobing sebagai Ibu Roy
Lulu Tobing memerankan ibu Roy, sosok perempuan tangguh yang berusaha membesarkan anaknya setelah kehilangan suami. Karakter ini menghadirkan dimensi keluarga dalam film. Hubungan ibu dan anak digambarkan penuh kasih, namun juga diwarnai perbedaan sudut pandang. Ibu Roy menginginkan kehidupan yang stabil bagi anaknya, sementara Roy ingin bebas menentukan jalannya sendiri. Konflik kecil di antara mereka terasa realistis dan menyentuh.
Zulfa Maharani sebagai Wiwik
Wiwik merupakan salah satu siswi yang terlibat dalam dinamika sosial sekolah. Ia memberikan warna tersendiri dalam lingkar pergaulan remaja dan memperkaya interaksi antar karakter.
Sitha Marino sebagai Dewi
Dewi adalah karakter perempuan lain yang hadir dalam lingkungan Roy. Ia menambah kompleksitas hubungan sosial dan memperlihatkan sisi lain kehidupan remaja pada era tersebut.
Yusuf Mahardika sebagai Edi
Edi adalah salah satu karakter pendukung yang memperkuat suasana sekolah dan konflik antar siswa. Perannya mungkin tidak dominan, tetapi tetap penting dalam membangun dunia cerita yang hidup.
Dede Yusuf sebagai Ayah Dullah
Sebagai orang tua Dullah, karakter ini memperlihatkan latar belakang keluarga yang memengaruhi kepribadian sang antagonis. Kehadiran figur orang tua dalam film ini membantu penonton memahami bahwa perilaku remaja sering kali dipengaruhi oleh lingkungan rumah.
Kekuatan Akting dan Chemistry Antar Pemain
Salah satu keunggulan Balada Si Roy (2023) terletak pada pemilihan pemain yang sesuai dengan karakter novel aslinya. Abidzar berhasil membawakan sosok Roy dengan karisma dan emosi yang kuat. Febby Rastanty tampil natural sebagai Ani yang lembut namun tegas. Bio One juga sukses menampilkan antagonis yang tidak sekadar jahat, tetapi memiliki motivasi dan latar belakang yang masuk akal.
Chemistry antar pemain terasa autentik, terutama dalam adegan persahabatan dan konflik. Hal ini membuat penonton mudah terhubung dengan cerita dan merasakan dinamika emosi yang ditampilkan.
Representasi Remaja Era 1980-an
Selain daftar pemain yang solid, film ini juga berhasil menghadirkan nuansa era 1980-an melalui kostum, musik, dan gaya pergaulan. Para aktor tidak hanya berakting, tetapi juga membangun atmosfer zaman yang kuat. Karakter-karakter dalam film ini merepresentasikan berbagai tipe remaja: pemberontak, pemimpin geng, sahabat setia, hingga gadis cerdas yang mandiri. Keberagaman karakter inilah yang membuat film terasa kaya dan tidak monoton.
Daftar pemain film Balada Si Roy (2023) menunjukkan kombinasi aktor muda berbakat dan aktor senior berpengalaman yang berhasil menghidupkan cerita klasik ke generasi baru. Setiap karakter memiliki peran penting dalam membentuk perjalanan Roy sebagai tokoh utama. Melalui penampilan mereka, film ini tidak hanya menjadi adaptasi novel, tetapi juga potret kehidupan remaja yang relevan lintas generasi. Persahabatan, cinta, konflik, dan keluarga digambarkan secara emosional dan realistis.
Dengan kekuatan akting dan karakter yang mendalam, Balada Si Roy (2023) menjadi salah satu film remaja Indonesia yang layak diapresiasi, baik oleh penonton lama yang mengenal novelnya maupun generasi baru yang baru pertama kali mengenal kisah Roy.
Baca Juga : Film Romantis Bikin Baper tentang Perempuan Merah Jambu yang Menyembunyikan Luka di Balik Senyumnya
